Polemik Ormas Kelola Parkir Minimarket Dan Kaitannya Dengan Industri 4.0

Polemik Ormas Kelola Parkir Minimarket Dan Kaitannya Dengan Industri 4.0

Polemik Ormas Kelola Parkir Minimarket Dan Kaitannya Dengan Industri 4.0. Belum lama ini kita di hebohkan dengan video viral tentang unjuk rasa yang di lakukan ormas di kota Bekasi. Unjuk rasa dilakukan ormas tersebut kepada pengelola minimarket supaya memberikan pengelolaan parkir di outlet-outletnya kepada ormas tersebut.

Dalam video unjuk rasa tersebut juga terlihat seorang pejabat pemkot Bekasi. Kami tidak mau mengomentari lebih jauh mengenai tentang Polemik Ormas Kelola Parkir Minimarket di Bekasi tersebut. Tentang bagaimana dan sebab dari kejadian tersebut. Pada artikel ini kami hanya ingin menanggapi kaitan kejadian tersebut dengan semangat industry 4.0 yang sedang di canangkan pemerintah.

Baca Juga:

Mimimarket perlu di tarik retribusi parkir untuk memberikan dampak positif bagi warung kecil

Pertama apakah kami setuju jika minimarket di tarik retribusi parkirnya ? Ya, Sangat, sangat setuju. Kami setuju jika minimarket wajib di tarik restribusi parkirnya. Tidak lain ini akan memberikan dampak positif bagi warung-warung kecil yang selama ini sangat menderita dari menjamurnya minimarket-minimarket modal besar.

Tapi, pengelolaannya harus high-tech. Sejalan dengan program industry 4.0. Ormas harus di dorong untuk menciptakan sistem yang bisa menangani retribusi perparkiran. Bayangkan berapa banyak anggota ormas tersebut. Rata-rata juga masih usia muda dan produktif. Dari ratusan anggotanya, masa iya nggak ada satupun yang bisa coding.

Jika di dorong mereka pasti mampu membangun sebuah sistem yang bukan hanya menangani penarikan retribusi. Tapi terintegrasi dengan sistem kas daerah atau kota. Juga terintegrasi dengan sistem smart city yang kembangkan dimasing-masing daerah atau kota. Adanya sistem, otomatis juga akan membentuk sebuah start-up.

Ini akan jauh, jauh dan jauh lebih baik, ketimbang pemkot hanya memberikan training-training jadul dalam persoalan menarik retribusi parkir. Yang katanya harus berpakaian sopan, tidak boleh gondrong, tidak boleh memaksa, dan lain sebagainya.

Tanpa sistem yang jelas. Penarikan retribusi parkir yang dilakukan ormas justru akan memberikan dampak negatif yang lebih besar daripada dampak positifnya. Berapa uang yang masuk ke ormas, berapa yang disetor, tidak jelas. Bisa saja, karena sistem yang semuanya serba tidak jelas, selain mudah dan rawan di korupsi, hingga terjadi perebutan lahan dan akhirnya makin mendorong kekerasan dan premanisme.

Kompetisi dalam hal yang produktif dan positif

Kami membayangkan jika ada satu ormas yang bisa menciptakan startup lalu mendapatkan dana dari perusahaan pendanaan. Hal tersebut bisa saja memacu ormas lainnya untuk menciptakan sistem baru hingga terjadi kompetisi antar ormas dalam hal teknologi. Kompetisi dalam hal superioritas kemampuan yang positif. Bukan kompetisi perebutan lahan atau superiortias kelompoknya dalam hal kekerasan.

Keberadaan ormas di indonesia sebenarnya adalah salah satu dari bonus demografi, jika diberdayakan secara baik oleh pemerintah. Mereka sudah berkumpul dalam wadah organisasi mereka masing-masing berdasarkan kesamaan visi dan misi mereka. Tinggal bagaimana pemerintah memacu mereka untuk menciptakan hal baru dalam bidang teknologi atau bidang bisnis lainnya.

Di masing-masing daerah sudah berdiri puluhan bahkan ratusan ormas. Dan masing-masing daerah juga memiliki potensinya masing-masing. Pariwisata, Produk lokal, Budaya dan lain sebagainya. Ormas bisa dijadikan sebagai elemen yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Dampak buruk menjamurnya minimarket modal besar

Selama ini, Menjamurnya minimarket memang memberikan dampak buruk terhadap warung-warung kecil yang menjual produk sehari-hari. Bahkan minimarket mampu melayani pembelian pulsa dengan sistemnya yang canggih. Yang juga memberikan dampak buruk bagi penjual dan kios-kios kecil yang menjual pulsa.

Apa yang dilakukan oleh pemkot bekasi menarik retribusi parkir dari pengusaha minimarket besar “sudah benar”. Hanya caranya saja yang salah pak. Cara bapak masih jadul…………….


Baca Juga :

 

 

Beri Komentar