Belanja Di Warung Tetangga, Bangun Ekonomi Kerakyatan

Belanja Di Warung Tetangga, Bangun Ekonomi Kerakyatan

Apakah ada usaha warung di sekitar tempat tinggal anda ? Warung usaha milik saudara atau tetangga anda sendiri ? Syukurlah kalau anda ternyata lebih senang belanja di warung tetangga anda sendiri. Ketimbang berbelanja di swalayan atau pasar modern atau di minimarket merah dan biru yang sudah sangat menjamur itu.

Mari hidupkan Gerakan Belanja di Warung Tetangga

Melalui artikel ini kami ingin mengajak anda kembali untuk mengingat gerakan yang beberapa tahun lalu sempat di suarakan ini. “Gerakan Belanja di Warung Tetangga”. Bukan hanya belanja produk fisik, untuk membeli pulsa atau membayar tagihan (listrik, air, dan lainnya). Bayarlah melalui usaha bills payment atau payment gateway usaha saudara atau tetangga yang ada di lingkungan kita. Tentunya jika ada, jika tidak ada bolehlah ke toko modern, hehehehhh.

Baca Juga :

Belanja di warung kecil untuk membangun ketahanan ekonomi masyarakat

Bukan soal diskriminasi atau anti kemapanan. Tapi menurut kami dengan membiasakan diri berbelanja di warung tetangga, kita ikut bergotong-royong membangun ekonomi kerakyatan. Pemilik warung akan menggunakan keuntungan berjualannya untuk menghidupi kebutuhan keluarganya.

Disitulah ketahanan ekonomi akan terbentuk. Pemilik warung yang mendapatkan keuntungan dari berjualan. Selain untuk mempertahankan usahanya dari jepitan pengusaha minimarket dan supermarket besar. Mereka mengalokasikan uangnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk membayar sekolah, bayar listrik, bayar air atau membayar iuran BPJS, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Pemilik warung tidak mungkin menitipkan uang keuntungan berjualannya di bank asing. Buktinya para pemilik warung di lingkungan saya tinggal, tidak ada satupun yang mengikuti program Tax Amnesty beberapa tahun lalu.

Apalagi beban hidup tahun depan akan semakin sulit. Iuran BPJS yang akan naik. Juga rencana pencabutan subsidi listrik 900 VA. Tarif tol dan parkir juga rencananya akan naik. Termasuk juga cukai kantong plastik. Jika saat ini anda membayar Rp. 200 untuk satu lembar kantong plastik, jika rencana kenaikan tersebut benar. Maka anda akan membayar Rp. 450 s.d Rp. 500 per lembar.

Belanja di warung kecil dari pagi sampai malam

Mungkin tidak kita sadari bahwa kegiatan sehari-hari kita sebenarnya bisa membangun ketahanan ekonomi masyarakat.

  • Misalnya, pagi-pagi kita sarapan nasi uduk di warung nasi uduk Bang Udin, atau lontong sayur Mpok Rini tetangga kita, ketimbang memilih menu sarapan restoran cepat saji negeri paman sam. Enggak perlu bayar pajak, plus bisa nambah semur jengkol yang manis lezat.
  • Lalu saat “brunch time” lebih asyik ngopi diwarung kopi Bang Dayat sambal nikmatin pisang rebus yang sehat anti kolesterol, ketimbang pergi ngopi ke café mahal amrik atau kopi Vietcong yang kalori dan gulanya kita nggak tau takarannya. Untunglah saya punya penyakit, setiap ngopi yang harganya mahal, perut saya langsung mules-mules. Heheheheheh.
  • Lalu waktu makan siang lebih enak jalan ke warung nasi padang uda Rizal, ketimbang meluncur ke restoran ayam goreng si colonel sanders.
  • Saat pulang kerja langsung pulang aja, makan dirumah. Istri udah masak sayur hasil membeli di tukang sayur Mbak Narti. Enggak usah lah mampir ke restoran masakan Italia.
  • Kalaupun sampai rumah habis pulang kerja ternyata istri nggk masak. No problem lah, jalan sedikit ke depan ada tukang sate Madura cak Imin atau nasi goreng Mas Karno yang lezat.

#Belanja di warung tetangga #ngopi 2rebuan #ngopi di warkop #sarapan nasi uduk #sarapan lontong sayur


Baca Juga :

Beri Komentar